29/03/2017

Valuasi Ekonomi Ekosistem Karst


Beberapa pengertian karst;
Dalam Wikipedia.org (2017) dikatakan bahwa karst adalah bentuk permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping.
Menurut Achmad Maulidi (2016) dalam "kanal.web.id", secara luas Karst adalah bentuk bentang alam khas yang terjadi akibat proses pelarutan pada suatu kawasan batuan karbonat atau batuan mudah terlarut (umumnya formasi batu gamping) sehingga menghasilkan berbagai bentuk permukaan bumi yang unik dan menarik dengan ciri-ciri khas eksokarst (di atas permukaan) dan endokarst (di bawah permukaan)
Adapun kemudian ciri-ciri dari kars itu sendiri diantaranya sebagai berikut;
  1. Daerahnya berupa cekungan-cekungan.
  2. Terdapat bukit-bukit kecil.
  3. Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.
  4. Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah
  5. Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu gamping.
  6. Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.
Source: http://www.wandelgek.nl/wp-content/uploads/2014/08/figure-13-19.jpg (2017)
Mungkin sekilas, setelah membaca pengertian dan ciri "ekosistem kars" masih banyak yang tidak mengerti apa sih sebenarnya ekosistem kars itu. untuk tampak jelasnya, beberapa ekosistem kars diantarnya dapat dilihat pada 2 (dua) gambar dibawah ini;




untuk tidak salah pengertian mengenai "ekosistem karst", jangan lah lupa bahwa pada posting ini yang dibahas ialah "ekosistem" kars, dan bukan apa itu "karst" secara khusus. berbicara mengenai "ekosistem", maka yang akan juga dibahas disini meliputi semua yang ada disekitaran kars, termasuk flora, fauna, dan zat-zat yang ada disekitar ataupun membentuk bentangan karst tersebut.

Laksmi Dhewanti, Dkk (2009) dalam "Panduan Valuasi Ekosistem Karst" menyebutkan manfaat ekonomi dari ekosistem karst diantaranya;
  1. Kawasan ini dapat berfungsi sebagai penyimpan air yang secara bertahap dapat disalurkan ketempat lain
  2. Gua yang memiliki mikroklimat (iklim tertentu yang terjadi pada wilayah yang kecil) yang sesuai bagi kehidupan satwa troglosen (merupakan kelompok fauna gua yang menggunakan gua sebagai tempat tinggal dan secara periodik keluar dari gua untuk mencari pakan, tidak hanya tergantung pada lingkungan gua, contoh : kelelawar) dalam hal ini diantaranya ialah kelelawar penghisap madu (membantu penyerbukan) dan kelelawar pemakan buah (membantu penyebaran biji)
  3. Berbagai gua ditempati burung walet penghasil sarang walet yang bernilai ekonomis tinggi.
  4. Pemandangan indah yang cocok untuk dijadikan tempat wisata
  5. Dapat berfungsi sebagai tempat pertahanan
  6. Berbagai kawasan karst memiliki beraneka macam bahan tambang
  7. Beberapa kawasan karst memiliki nilai tradisi trogolodyte (orang yang hidup di gua, namun dalam hal ini ialah tradisi masyarakat yang masih menggunakan guat atau ceruksebagai bagian dari tradisinya) seperti kuburan Toraja.
  8. Beberapa kawasan karst memiliki nilai pusaka budaya.
Dalam buku tersebut juga dituliskan pemanfaatan yang dapat dilakukan untuk membuka banyak peluang bagi masyarakat, diantaranya:
Pemanfaatan sekitar 1/2 (setengah) bagian atas bukti karst sebagai hutan alam atau wana-tani (agro-forestry) selain membuka hasil pertanian sesuai dengan jenis yang ditanam juga memberi kesempatan meningkatkan penangkapan air yang sangat diperlukan dalam proses karstifikasi, mempertahankan keindahan (jika ada) gua (tujuan wisata) yang ada dibawahnya, mempertahankan lembab nisbi (jika ada) gua kelelawar dan gua walet sehingga dapat mengoptimalkan populasi dan fungsi satwa-satwa tersebut bagi ekosistem (termasuk pertanian), dapat menambah akuifer (lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air) dibawahnya serta dapat mengaliri ladang dibawahnya sehingga produksinya optimal, menyediakan pakan bagi kelelawar dan walet ketika manakala lahan pertanian tidak dapat menyediakan pakannya, tempat hidup dan bertahan berbagai jenis hayati endemik maupun langka, mengurangi erosi, dsb.
TAHAPAN VALUASI

Adapun tahapan valuasi pada ekosistem karst sama dengan ekosistem yang lainnya, yang diantaranya meliputi;
  1. Penentuan Tujuan
  2. Penentuan Wilayah yang Akan divaluasi
  3. Identifikasi Wilayaha Gambut
  4. Penentuan Metode Valuasi 
  5. Data Kuantifikasi Fungsi Ekosistem
  6. Perhitungan Nilai Ekonomi (Valuasi) Moneter
  7. Analisis
Untuk keterangan tahapan valuasi anda bisa melihatnya pada posting "Valuasi Ekonomi Ekosistem Gambut" keterangan "Tahapan Valuasi" kurang lebih seperti pada posting tersebut.

KERANGKA PROSEDUR VALUASI EKONOMI EKOSISTEM KARST

Laksmi Dhewanti, Dkk (2009) dalam "Panduan Valuasi Ekosistem Karst" menjelaskan bahwa sebaiknya diidentifikasi sebanyak mungkin manfaat sistem karst terutama yang mempunyai nilai manfaat strategis untuk dapat dihitung nilai ekonominya. nilai ekonomi yang dihitung terdari dari fungsi ekosistem karst baik endokarst maupun eksokarst. kemudian untuk penghitungan nilai ekonomi kawasan karst yang bermanfaat secara ekstraktif menggunakan pendekatan harga pasar atau harga jual dari komoditi yang dimanfaatkan.

Laksmi Dhewanti, Dkk (2009) dalam "Panduan Valuasi Ekosistem Karst" menjelaskan lagi bahwa demikian banyaknya komponen penyusun karst menyebabkan penghitungan nilai ekonomi tidak dapat dan tidak boleh dilakukan dengan metode yang sama, sebagai contoh;
  • menilai ekonomi suatu gua wisata (mungkin) dapat dilakukan hanya dengan menghitung jumlah seluruh biaya perjalanan, termasuk harga penjualan tiket, pembayaran tiket parkir, biaya makan pengunjung, biaya menginap pengunjungm dan seturusnya selama setahun.
  • sedangkan untuk menghitung nilai ekonomi suatu jenis hayati tidak dapat dilakukan sebagai mana halnya gua wisata. alasan ketidaksesuaian tarif ini relatih lebih mudah jika ditujukan dengan contoh: seandainya ada sebuah gua yang berisi 1000 ekor kelelawar pemakan madu, yang membantu penyerbukan durian dan petai, seluruhnya ditangkap kemudian dijadikan makananyang masing-masing dijual dengan harga Rp. 5.000,- /ekor, maka akan diperoleh nilai total Rp. 5.000.000,- yang merupakan pendapdatan sekali habis. namun penangkapan ini menyebabkan bunga durian yang berada dikawasan populasi kelelawar ini mencari makan tidak ada yang membantu penyerbukannya. jenis-jenis kelelawar penyerbuk ini diperkirakan memiliki daerah jelajah sejauh 5 km atau meliputi sekitar 150 hektar. seandainya 1/3 kawasan ini terdapat tanaman durian dengan rata-rata 5 batang per hektar, dengan produksi 1000 buah pertahun, dengan harga di kebun Rp. 10.000,- /buah maka dalam waktu 1 tahun kerugian yang ditimbulkan = 50 x 5 x 1.000 x 10.000,- = Rp. 2.500.000.000,-. pendapatan ini bersifat berkelanjutan. 
  • harga air sangat relatif, tergantung pada jumlah dan mutunya. di dalam keadaan tertentu, segelas air dapat menyelamatkan jiwa manuia sehingga harga satu gelas air sama dengan harga satu nyawa manusia, namun air yang melimpah akibat banjir dapat diberikan nilai ekonomi minus.selain itu harga ekonomi satu kubik air mineral akan jauh lebih mahal dari pada air baku rumah tangga, air baku rumah tangga akan lebih mahal dibandingkan dengan air baku peternakan. dan air baku rumah tangga akan lebih mahal dibandingkan dengan air baku untuk irigasi. dengan demikian menetapkan harga air baku pun akan sangat sulit dan perlu kesepakatan dalam menetapkannya.
  • Perhitungan ekonomi membuka suatu hutan alami di kawasan karst tidak akan benar jika hanya dilakukan dengan menjumlahkan fungsi jenis hayati yang ada karena pembukaan hutan menyebabkan air larian bertambah. perubahan jumlah air larian dapat meningkatkan terjadinya erosi tanah dan juga mengakibatkan banjir, sedangnya berkurangnya air yang teresap ke dalam tanah dapat menyebabkan berkurangnya air yang tertampung dalam akuifer sehingga dapat menyebabkan kekeringan di musim kemarau. di kawasan karst berkurangnya jumlah air yang terserap akan menyebabkan turunnya proses kartifikasi. turunnya proses kartifikasi dapat menyebabkan kusamnya stalatit dan stalakmit yang terdapat di daldam gua wisata, hal ini dapat di ikuti dengan berkurangnya jumlah pengunjung gua wisata.
  • penghitungan nilai ekonomi sumber daya dari kawasan karst yang bermanfaat secara ekstraktif, misalnya bahan tambang, dapat dilakukan dengan emnggunakan pendekatan harga pasar atau harga jual dari komoditas yang dimanfaatkan. harga pasar ini selanjutnya digunakan untuk menghitung harga sewa per unit (( harga jual - biaya produksi ) dengan asumsis laba layak 15%)  dari penggunaan sumber daya alam tersebut. indikator yang digunakan adalah nilai produksi total per tahun untuk masing-masing produk.
  • sedangkan dalam penggunaan ekosistem karst sebagai objek penelitian dan sarana pendidikan, penghitungan nilai ekonominya tidak dapat menggunakan pendekatan pengganti (besarnya biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan penelitian atau pendidikan sejenis ditempat lain) karena penelitian yang benar seharusnya dapat menghasilkan sesuatu yang nilai ekonominya sangat tinggi melebihi biaya penelitiannya.
  • untuk memberi nilai ekonomi pusaka budaya dan jenis hayati gua yang sangat sulit, sebagai contoh candi borobudur tidak mungkin di nilai dengan harga kubikasi batu yang disusun menjadi candi saja. di sisi lain, gua di tenga hutan yang pada dindingnya terdapat gambar cap tangan tetapi tidak merupakan tujuan wisata dan batu-batunya tidak akan laku dijual bukan berarti tidak memiliki nilai ekonomi. (ditegaskan oleh Laksmi Dhewanti, Dkk (2009) dalam "Panduan Valuasi Ekosistem Karst" bahwa belum ditemukan metode pemberian nilai ekonomi yang dapat diterima semua pihak).
sebagai tambahan, berikut beberapa data terkait materi ini yang saya tulis ulang sesuai dengan sumber artikel ini untuk kemudian dipelajari;
Sebagian besar dari Artikel ini adalah ringkasan dari sumber dibawah, silahkan menghubungi penulis sebenarnya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Sumber:
Wikipedia.org
Rahmadi Cahyo. 2008. "Koleksi dan Pengenalan Biota Gua: Arthropoda Gua". Biotagua.org
Maulidi, Achmad. 2016. "Pengertian Karst dan Ciri-Ciri Kawasan Karst". kanal.web.id
Dhewanti, Laksmi., Dkk. 2009. "Panduan Valuasi Ekosistem Karst". Kementrian Lingkungan Hidup; Jakarta

No comments:

Post a comment